UNDER
GROUND
“Evakuasi siswa!”
“Evakuasi siswa!”
Tiba-tiba
suara alarm sekolah berbunyi semua siswa panik dan mencari tahu apa yang
sebenernya terjadi.
***
“Melvin Addison.” Namanya
dipanggil ke atas panggung untuk menerima medali kelulusan. Hatinya gembira
bukan main. Karena sebentar lagi ia akan terbebas dari asrama sekolah ini.
“Vin,
ayo have fun dulu di sini, baru kita
cabut,” bujuk Ryan. Sambil menarik lengan Melvin agar tetap menikmati acara farewell party ini. Melvin menuruti perkataan
Ryan, namun pandangannya kosong, entah apa yang sedang ia pikirkan. Kemudian
Melvin hanya duduk di tepian aula, memandangi orang-orang yang sedang berpesta.
“Hai!”
sapa seorang wanita cantik. Dari jarak dua meter, Melvin bisa mencium aroma parfum yang melekat pada tubuh seorang Theresa.
“Emm
…,” jawab Melvin tanpa semangat.
“Oh,
iya, anak panah kamu masih di asrama. Nanti, ya, aku balikin.” Theresa meminjam
anak panah Melvin untuk melatih kemampuannya dalam memanah. Karena dirinya
tidak sempat mengambil kelas penguasan senjata di semester akhir kemarin.
SMA
DerGround memang berbeda dari sekolah lain. Sekolah ini memiliki kelas khusus
untuk mengasah kemampuan masing-masing muridnya. Di setiap semester, Melvin pasti
memilih sesuatu yang berbeda dari semester sebelumnya. Melvin terkenal dengan
kemampuan serba bisa, di kelas fighting,
ramuan, dan penguasan senjata.
“Kamu
kenapa, sih, bengong mulu dari tadi aku lihat,” selidik Theresa. Yang merasa
aneh dengan tingkah sahabat karibnya ini.
“Enggak,
aku cuman kepikiran tentang perkataan Pak Xavier, tentang makhluk aneh itu,”
balas Melvin dengan wajah serius.
“Ha-ha-ha!
Pak Xavier di percaya, Vin. Musyrik kamu, ha-ha!” Theresa tak berhenti tertawa
mendengar jawaban Melvin yang dianggapnya begitu berlebihan. Pak Xavier
terkenal sebagai guru ahli astronomi. Namun, cerita tentang makhluk yang ada di
luar angkasa itu dianggap mengada-ada oleh muridnya sendiri, tapi tidak dengan
Melvin. Ia merasa tidak ada salahnya memercayai seorang guru yang memang ahli
di bidangnya.
***
“Evakuasi siswa!”
“Evakuasi siswa!”
Tiba-tiba
suara alarm sekolah berbunyi, semua siswa panik dan mencari tahu apa yang
sebenernya terjadi. Tak sengaja Melvin membuka tirai jendela, matanya membulat
tak percaya, melihat kondisi di luar yang sangat berbeda dari terakhir kali ia
lihat tadi pagi.
Tangannya ditarik Pak
Xavier dan membawa Melvin ke ruang kantornya. Di saat itu pula, Melvin merasa
gedung sekolahnya ini bergerak layaknya lift mengarah ke lantai bawah.
“Ada
apa ini Pak? Kenapa aku di bawa kesini?” tanya Melvin. Dengan wajah
kebingungan, karena hanya Melvin yang di evakuasi di kantor ini.
“Diamlah!
Akan ada orang yang berhak menjelaskan ini semua padamu,” jawab Pak Xavier, sambil
menggesekan card lock ke pintu
kantornya.
Pintu
terbuka, Melvin kali ini lebih terkejut melihat hal yang tak pernah ia
bayangkan sebelumnya, ‘kenapa kantor pak
Xavier berubah menjadi tempat seperti ini,’ batinnya, banyak orang berlalu lalang
yang sibuk dengan pekerjaannya, dan alat-alat canggih yang belum pernah ia
lihat.
Tiba-tiba Pak Xavier
menyerahkan baju. Melvin melihat baju itu sama dengan baju yang dikenakan
orang-orang yang berada di sini, dan ‘sejak
kapan pak Xavier berganti baju.’ Lagi-lagi Melvin membulatkan matanya tak
percaya.
Melvin
sudah mengenakan pakaian yang didesain khusus untuknya, ia sudah dijelaskan
tentang macam-macam fungsi dari baju ini, dari anti peluru, menyesuaikan suhu,
dan tahan api, serta apa-apa saja senjata yang ada di dalamnya. Melvin berjalan
menuju ruangan yang dijaga ketat oleh penjaga, ketika ia melihat sosok lelaki
tinggi, besar, dan berotot, menengok ke arahnya, Melvin sangat amat terkejut.
“Ayah!”
ucap Melvin dan langsung menghampiri sang ayah sebelum memeluk erat tubuhnya. Sosok
yang sangat ia rindukan, setelah tiga tahun lamanya mereka tidak bertemu.
“Kenapa
Ayah berbohong dengan ku? Ayah bilang, Ayah bekerja di luar negeri,” ucap
Melvin meminta penjelasan. Sejak kecil ia memang jarang bertemu ayahnya. Melvin
tinggal dengan Almarhumah ibunya yang meninggal ketika ia lulus SMP. Selama SMA,
sang ayah tidak pernah menjenguknya, bahkan komunikasi lewat telepon pun tidak
pernah.
“Inilah
Ayah. Di sini Ayah bekerja untuk menyelamatkanmu dan semua orang yang ada di
atas sana.” Melvin bingung dengan kata ‘di
atas sana’.
“Raja
Ervan Addison adalah pemimpin Under Ground,”
lanjut Xavier. Tak pernah sekalipun Melvin berpikir bahwa ayahnya adalah seorang
Raja. Ia juga baru tersadar jika sekarang dirinya berada di bawah tanah.
“SMA
DerGround adalah sekolah yang Ayah bangun untuk melatih kemampuan anak-anak
dari penduduk Under Ground, termasuk
kamu, Vin,” jelas Ervan pada Melvin.
***
Semua
siswa dari SMA DerGround berkumpul di aula kerajaan, Melvin, Ryan, dan Theresa
di tunjuk sebagai pemimpin perang untuk pasukan elite muda. Melvin di bagian
garis depan, Ryan di bagian cyber war
dan Theresa di bagian laboratorium untuk menyelesaikan pembuatan zat VX. Jika
rencana pertama gagal, maka zat ini digunakan untuk memusnahkan musuh.
“Di
atas sana, saudara kita membutuhkan bantuan kita. Ada makhluk luar angkasa yang
sangat ingin menguasai bumi, dengan membunuh manusia yang tidak tunduk dengan
meraka.” Raja Ervan melakukan pengarahan singkat untuk mereka yang akan terjun
langsung melawan The Sirians sebutan
untuk alien cerdas itu. Meraka disebut sebagai alien modern, karena mereka
telah ikut andil dalam pembentukan peradaban di bumi.
The Sirians juga telah bekerja sama dengan
manusia, untuk pengembangan teknologi canggih mereka dan pembuatan senjata
rahasia yang akan menguntungkan negara yang bekerja sama dengan The Sirians.
***
Tim
Ryan sudah mengirimkan kamera untuk mengetahui kondisi terkini di atas sana.
Kini Melvin dan tim yang lain tengah bersiap untuk menuju titik utama, Melvin
menggunakan pesawat siluman yang tak kasat mata, agar tidak mudah terdeteksi.
Dan Ryan yang akan menjadi instruktur Melvin untuk memberikan informasi titik
penyerangan yang strategis.
“F-001
on target,” ucap Melvin, saat berada
di titik vital, tempat berkumpulnya para The
Sirians, Dari atas, Melvin dapat melihat betapa brutalnya alien itu tatkala
menyiksa manusia yang tidak mematuhi mereka. Berbeda dengan Melvin, tim lain sedang bertugas untuk membebaskan
para sandera lewat jalan terdekat.
Tak
lama kemudian, Melvin meminta ijin untuk mendarat kepada Ryan. Namun, ketika
ingin mendarat, pesawat yang ia kendarai mulai terdeteksi. “F-001, F-001!
Melvin?” Ryan terus saja menyebut tipe pesawat yang di kendarai Melvin karena
sambungan mulai terputus. Sama halnya dengan Ryan, Raja Ervan juga terlihat
sangat mencemaskan kondisi sang putra.
“Raja, izinkan aku pergi untuk
menjalankan rencana kedua.” Mendadak Theresa dan timnya menghadap Raja Ervan
untuk mengambil langkah selanjutnya. Karena tidak ada pilihan lain, Raja Ervan terpaksa
mengizinkan Theresa untuk meluncurkan zat VX.
***
“Dari
mana kamu mendapatkan pesawat secanggih itu?” tanya seorang pria paruh baya
yang menjadi manusia kepercayaan The
Sirians dengan seringai jahatnya. Melvin hanya diam karena tidak bisa
berbuat apa pun. Bahkan tubuhnya diikat dan disiksa lebih parah daripada yang
lain.
“Ini
bagian ku.” Salah satu alien yang ternyata pemimpin dari The Sirians mendekati Melvin. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh
Melvin sebelum akhirnya tertawa, “Ha-ha-ha! Dia berasal dari tanah,” sambungnya
yang membuat Melvin merasa risi dan langsung meludahi wajah pemimpin itu.
“Mengapa
kau tidak punya rasa takut, huh!” bentak lelaki paruh baya itu. Lalu pemimpin The Sirians itu mengisyaratkan
pengikutnya untuk diam. “Bergabunglah dengan kami, maka kau tidak akan
merasakan siksaan ini lagi,” bujuk alien jahat itu dengan lembut guna
memengaruhi pikiran Melvin.
“Lebih
baik aku mati! Daripada harus bergabung dengan makhluk jahat sepertimu!” teriak
Melvin tak mau kalah. Teriakan Melvin berhasil memancing emosi dari alien itu
hingga ingin memukul. Tiba-tiba alien itu bergelayut dan langsung tak sadarkan
diri.
“Theresa
....” lirih Melvin dengan pandangan yang buram. Ia melihat sosok Theresa yang
tengah berkelahi menghadapi alien dan para manusia yang menjadi pengikut The Sirians. Theresa menembaki mereka
dengan peluru yang mengandung zat VX di dalamnya.
Ketika
tim lain datang, Theresa menginstruksikan mereka untuk mencari pemimpin The Sirians yang sempat melarikan diri
dari serangan dadakan Theresa.
Theresa
menghampiri Melvin dan segera melepas ikatan yang menjerat tubuh Melvin.
“Melvin save.” Ucapan Theresa pada Ryan
membuat semua yang ada di kerajaan dapat bernapas lega.
“Pemimpin
The Sirians, telah kami amankan dan zat
siap diluncurkan,” kata salah satu prajurit yang menghampiri Theresa. “Sekarang
waktunya kita pergi dari sini,” balas Theresa, dan segera membopong tubuh
Melvin.
Mereka
semua memakai pesawat siluman agar para alien tidak dapat melihat mereka di
kota itu. Para sandera pun telah di evakuasi menuju kerajaan Under Ground. Mereka membiarkan The Sirians dan manusia pengikutnya bebas
di area kota.
“Kapan kau meluncurkan
zatnya, Theresa?” Theresa tidak mengindahkan pertanyaan Melvin.
Saat mereka mendekati titik
aman, Theresa menghela napas sebelum memencet tombol merah untuk merilis zat
VX. Semua makhluk hidup di kota akan mati setelah menghirup zat VX itu. Bahkan
semut sekali pun akan turut mati.
***
Ketika tim elite muda tiba
di kerajaan, mereka disambut para penduduk Under
Ground.
Raja Ervan langsung
menghampiri Melvin. “Maafkan Ayah, Vin. Ayah sudah membuatmu seperti ini.”
“Tidak, Ayah. Ini sama
sekali bukan salah Ayah.” Melvin tersenyum tulus.
“Kamu tidak cocok tersenyum
dengan wajah bersimbah darah seperti itu, Vin,” sembur Theresa, yang sebenarnya
juga prihatin dengan kondisi Melvin saat ini.
Ryan berlari dan langsung
berhambur di pelukan Melvin. “Aw!” ringis Melvin.
“Ryan, dia sedang
kesakitan. Kenapa kamu memeluknya seperti itu, sih?” protes Theresa, Ryan melerai
pelukannya dan menyengir.
Akhirnya kerajaan Under Ground di kenal oleh seluruh
lapisan manusia di bumi. Semua presiden yang pernah diserang The Sirians berterima kasih pada
kerajaan Under Ground. Kini Raja
Ervan, Melvin serta para pasukan elite muda menjadi sorotan dunia karena
kemampuan dan kesiapan mereka melawan alien cerdas itu. Dan kerajaan Under Ground dinyatakan sebagai tumpuan
masa depan dunia karna kecanggihan teknologinya.
BIODATA PENULIS
Nama Lengkap : Nour Pusvita Anggreini
Email :
apkxiavitaanggreini@gmail.com
Alamat Instagram : https://www.instagram.com/pvitaagrein/